Jumat, 14 Desember 2012

Laporan Praktikum Biologi








ACARA I
PENGENALAN SEL








BAB I
MATERI DAN METODE
Praktikum Biologi dengan materi Pengenalan Sel dilaksanakan pada hari Senin 1 Oktober 2012 pukul 11.00 – 13.00 WIB di gedung Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
1.1  .     Materi
Praktikum Pegenalan Sel menggunakan alat-alat seperti: mikroskop yang berfungsi untuk melihat benda mikroskopis, kaca objek dan kaca penutup yang berfungsi untuk meletakan objek. Selain itu, kami juga menyediakan beberapa bahan antara lain daun Rhoe discolor dan sel hewan (usus tikus).

1.2  Metode
Metode praktikum kami lakukan dengan cara menyayat daun Rhoe discolor dan sel hewan (usus tikus) setipis mungkin dengan menggunakan silet, kemudian meletakanya diatas objek yang sudah kami tetesi dengn air. Kami melakukan hal yang sama sebanyak dua kali. Setelah itu, sayatan Rhoe Dicolor kami tetesi dengan air lalu kami tutup menggunakan kaca penutup, kemudian kami mengamati dan menggambar bagian – bagian sel Rhoe Dicolor dan sel tikus yang terlihat.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1.      Struktur Sel Tananman Rhoe Discolor
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum pengenalan Sel diperoleh hasil sebagai berikut :
Perbesaran 40 kali
Perbesaran 100 kali









Sumber: Data Primer Praktikum Biologi 2012.
Ilustrasi 1. Penampang sel Rhoe Discolor
Keterangan :    1. Inti sel                     3. Stomata
2. Sitoplasma               4. Dinding sel
                       
Rhoe Dicolor memiliki beberapa sel penyusun penampang daun. Berdasarkan praktikum, kami melihat dan memperoleh hasil bahwa daun Rhoe discolor memiliki dinding sel, sitoplasma, stomata dan nukleus. Dinding sel merupakan organel yang memisahkan antara ruang satu dengan ruang lainnya, hal ini sesuai dengan pendapat Yatim (1991) yang menyatakan bahwa fungsi dinding sel sebagai filter dari segala unsur yang masuk atau keluar dari sel serta sebagai pelindung sel. Sitoplasma terletak diantara dinding sel dan nukleus, hal ini sesuai dengan Kimball (1993) yang menyatakan bahwa sitoplasma merupakan cairan yang mengisi ruangan antara dinding sel dengan nukleus atau inti sel yang merupakan sistem koloid. Nukleus terletak ditengah sel daun Rhoe Discolor, hal ini sesuai dengan pendapat Greulach dan Adams (1997) yang menyatakan bahwa nukleus atau inti sel merupakan pengatur seluruh aktivitas sel
2.2.      Struktur Sel Hewan (Usus Tikus Putih)
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum Pengenalan sel diperoleh hasil sebagai berikut :
Perbesaran 40 kali

Perbesaran 100 kali














Sumber : Data Primer Praktikum Biologi 2012.

Ilustrasi 2. Penampang sel hewan (Usus Tikus Putih)

Keterangan :    1. Membran sel            5. Golgi kompleks                  
                        2. Inti sel                     6. Retikulum Endoplasma
                        3. Sitoplasma              
                        4. Mitokondria                       


Tikus putih memiliki beberapa sel penyusun jaringan. Berdasarkan praktikum dan pengamatan melalui mikroskop yang kami lakukan, kami menemukan Inti sel, membran sel, sitoplasma, mitokondria, golgi kompleks dan retikulum endoplama. Inti sel terletak ditengah dan berfungsi sebagai pengatur koordinasi semua aktifitas sel, hal ini sesuai dengan pendapat Yatim (1991) yang menyatakan bahwa inti sel adalah organel yang berfungsi sebagai pusat koordinasi aktifitas seluruh sel. Membran sel berfungsi sebagai pelindung bagian dibawahnya seperti nukleus dan sitoplasma, hal ini sesuai dengan pendapat Pratiwi (2004) yang menyatakan bahwa membran sel merupkan membran yang sangat tipis yang berfungsi melindungi bagian didalamnya dan mengatur peredaran zat-zat dalam sitoplasma.
2.3.      Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan
Sel hewan dan tumbuhan termasuk sel eukariotik yang memiliki selaput inti, namun secara umum ssel hewan dan sel tumbuhan tidak memiliki perbedaan yang mendasar, hanya saja perbedaan pada bagian struktur atau organ-organ tertentu. Sel tumbuhan memiliki dinding sel, membrane sel, inti sel, sitoplasma, kutikula, dan epidermis sedangkan sel hewan memiliki vakuola, retikulim endoplasma dan membrane sel. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sumandi (2000) bahwa sel hewan dan sel tumbuhan memiliki perbedaan pada organ tertentu. Sel tumbuhan memiliki membrane sel, sitoplaasma, reticulum endoplasma, inti sel (nukleus), mitokondria, ribosom, plastid, dan vakuola. Perbedaan sel hewan terletak pada sentriol, sentrosom, lisosom, dan flagel silia, juga sesuai dengan pendapat Kimball (1992) yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara tanaman dikotil dan tanaman monokotil pada organ-organ tertentu seperti akar,daun dan lain-lain.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.      Kesimpulan
            Daun Rhoe discolor memiliki dinding sel, sitoplasma, stomata, krital pasir dan nukleus. Setelah dilakukan pengamatan pada sel hewan dan sel tumbuhan maka kami simpulkan bahwa terdapat perbedaan antara sel hewan dan sel tumbuhan. Pada sel tumbuhan terdapat dinding sel dan stomata, sedangkan pada sel hewan tidak ada organel tersebut.
3.2. Saran
            Sebaiknya apabila melakukan praktikum menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 kali supaya tampilan objek yang diamati nampak jelas terlihat. Dan juga setiap praktikan difasilitasi alat dan bahan sendiri-sendiri supaya dalam mengamati objek lebih focus dan leluasa.








DAFTAR PUSTAKA
Yatim, W. 1991. Biologi Modern Biologi Sel.Tarsito, Bandung
Kimball, J.W. 1994. Biologi Jilid I Edisi kelima. Erlangga, Jakarta.
Pratiwi, D,A. 2004. Biologi Sains. Erlangga, Jakarta.
Greulach dan Adams. 1997. Fisiologi Tumbuhan. Tarsito, Bandung














































ACARA II
PENGENALAN JARINGAN TUMBUHAN



















BAB I
METERI DAN METODE
Praktikum Biologi dengan materi Pengenalan Jaringan Tumbuhan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 1 Oktober 2012 pukul 11.00 – 13.00 WIB di Laboratorium Fisiologi Dan Biokimia Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
1.1.      Materi
Praktikum menggunakan alat berupa mikroskop yang berfugsi untuk melihat benda mikroskopis, kaca objek dan kaca penutup yang berfungsi untuk meletakkan objek yang akan diamati. Selain alat-alat itu tadi, dalam acara II ini kita siapkan penampang jaringan tanaman jagung dan penampang jaringan tanaman kacang tanah. Sel-sel yang menyusun tubuh menjadi terspesialisasi untuk menjalankan berbagai fungsi hidup. Jaringan merupakan sekelompok sel yang memiliki bentuk susunan dan fungsi yang sama. 
1.2.      Metode
Metode praktikum kami melakukan dengan cara mengamati jaringan yang sudah dipersiapkan. Kita tinggal mengamati dan menyiapkan jaringan batang dan akar jagung serta akar kacang tanah. Dari masing-masing bahan ini, kami mengiris tipis dengan silet untuk diteliti struktur jaringannya. Setelah selesai mengiris, kemudian menaruh di kaca preparat untuk kemudian meneliti struktur penyusunnya.

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1.      Struktur Jaringan Batang dan Akar Tanaman Jagung
                                
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum Pengenalan Sel diperoleh hasil sebagai berikut :
Perbesaran 40 kali
Perbesaran 100 kali






Sumber: Data Primer Praktikum    Biologi, 2012.
Ilustrasi 3. Penampang jaringan batang tanaman jagung
Keterangan:     1. epidermis                 3. floem
                        2. kortek                      4. Xylem
Perbearan 40 X
Perbesaran 100 X


   
Sumber: Data Primer Praktikum    Biologi, 2012.
Ilustrasi 4. Jaringan akar jagung
Keterangan:     1. xilem                       4. endodermi
                        2. floem                       5. Epidermis
3. korteks       
            Tanaman jagung memiliki banyak sel penyusun batang, berdasarkan praktikum kami dapat melihat epidermis, kortex, floem dan xilem. Hal ini sesuai dengan pendapat Iserep (1993) yang menyatakan bahwa jaringan penyusun batang tanaman monokotil terdiri dari epidermis, korteks, floem, xilem dan endodermis. Saat mengamati sel batang jagung, kami sulit membedakan batas antara korteks dengan silinder pusat. Hal ini diperjelas oleh Hidayat (1995) yang menyatakan bahwa Epidermis batang tanaman monokotil terdiri dari satu lapis sel sehingga batas antara kortexs dan stele (silinder pusat) terlihat tidak jelas dan sulit dibedakan. Kortexs pada batang jagung merupakan daerah diantara epidermis dan silinder pembuluh paling luar. Xilem tanaman jagung bertugas mengangkut air dan garam-garam mineral terlarut dari akar ke seluruh bagian tubuh tanaman jagung, sedangkan floem bertugas mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Jaringan epidermis batang jagung berfungsi melindungi jaringan di sebelah dalamnya, karena jaringan ini letaknya di sebelah luar, sebagaimana kami telah melihatnya.
Akar tanaman jagung memiliki banyak sel penyusun. Sebagaimana kami telah melihatnya, kami menemukan ada bagian xilem, floem, korteks, epidermis, dan endodermis. Hal ini sesuai dengan pendapat Campbell (1991), Jaringan tumbuhan merupakan sekumpulan sel-sel tumbuhan yang mempunyai bentuk, asal, struktur dan fungsi yang sama. Jaringan dasar akar sebagian besar terdiri dari parenkim, korteks, xilem, floem, endodermis, daerah antara silinder vaskular dan epidermis.  Hal ini diperjelas Reece (2009) yang menyatakan bahwa kebanyakan akar tumbuhan monokotil, jaringan vaskularnya terdiri dari sel parenkim dikelilingi oleh cincin yang berupa xylem dan floem. Bagian tengahnya sering disebut empulur dan terdapat endodermis. Bagian luarnya terdapat jaringan epidermis yang berfungsi sebagai pelindung.

2.3.      Struktur Jaringan Akar Tanaman Kacang Tanah
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum Pengenalan Sel dan Jaringan diperoleh hasil sebagai berikut :
Perbearan 40 X
Perbesaran 100 X







   
Sumber: Data Primer Praktikum    Biologi, 2012.
Ilustrasi 5. Jaringan akar kacang tanah
Keterangan:     1. xilem                       4. Kambium
                        2. floem                       5. Epidermis
3. korteks
Akar kacang tanah memiliki banyak sel penyusun. Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan diperoleh hasil bahwa tanaman kacaang tanah memiliki xilem, floem, kambium, korteks dan epidermis. Xilem berfungsi menyerap air dan mineral dari dalam tanah melalui akar. Hal ini sesuai dengan pendapat Pratiwi (2004) yang menyatakan bahwa jaringan xilem berfungsi sebagai pengangkut air dan garam-garam mineral dari dalam tanah melalui akar ke daun yang akan disebarkan ke seluruh tubuh, bentuk sel-sel xilem memanjang dan membentuk zat pembuluh. Floem berfungsi sebagai pengangkut hasil fotosintesis. Hal ini sesuai dengan pendapat Kimball (1991) yang menyatakan bahwa floem berfungsi sebagai pengangkut zat-zat makanan hasil fotosintesis dari daun keseluruh tubuh tumbuhan. Kami juga melihat epidermis, lapisan sel paling luar pada akar yang berfungsi untuk memproteksi terhadap kerusakan mekanis dan apa bila kehilangan air yang berlebihan. Selain itu kami juga melihat korteks, bentuknya beberapa lapisan sel yang berdinding tipis. Hal ini sesuai pendapat Benyamin (1993) Dending korteks bersifat sangat permeable, memiliki bentuk tipis dan berlapis-lapis sehingga memungkinkan air dari permukaan akar bergerak menuju pembuluh xilem melalui dinding sel korteks.
2.4.    Perbedaan Tanaman Monokotil dan Dikotil
          Tumbuhan monokotil memiliki kotiledon setiap biji satu buah, akarnya serabut, tidak berkambium, susunan tulang daunnya sejajar aatau melengkung dan bagian bunga umumnya tiga atau kelipatannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Friend (1999) bahwa tumbuhan monokotil memiliki akar serabut, memiliki satu buah kotiledon pada setiap biji, akar dan batang tidak berkambium, susunan tulang dan daun sejajar, jumlah bunga tiga atau kelipatannya, serta memiliki kaliptrogen. Sedangkan tumbuhan dikotil mempunyai dua lembaga dan akar lembaganya kemudian menjadi akar tunggang yang bercabang menjadi sistem akar tunggang serta batangnya memiliki kambium untuk pertumbuhan menebal sekunder. Bentuk daunnya lebar, pipih, dan tulang daunnya menjari. Hal ini sependapat dengan Steenis (1999) bahwa tumbuhan monokotil tergolong subdivisio Angiospermae. Angiospermae memiliki ciri-ciri daun berbentuk pipih, lebar, dengan susunan tulang yang beraneka ragam.



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1     KESIMPULAN
Setelah dilakukan pengamatan pada struktur Jaringan Tanaman Kacang Tanah dan  Struktur Jaringan Tanaman Jagung menggunakan mikroskop, maka dapat kita simpulkan bahwa tanaman monokotil memiliki perbedaan dengan dikotil, baik jika dilihat dari bentuk penampilannya ataupun setelah diteliti menggunakan mikroskop.

3.2     SARAN
          Penelitian atau praktikum ini kita lakukan dengan tujuan untuk mengetahui struktur jaringan tanaman monokotil dan dikotil. Penulis menyarankan kepada para pembaca supaya mau memberikan masukan untuk menambah wawasan bagi penulis.










DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil and Jane B Reece. 1991. Biology Second Edition. San Francisco: Benjamin Cummings.

Campbell, Neill and Jane B Reece. 2009. Biology Eight Edition. San Francisco: Benjamin Cummings.

Hitayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Biji. ITB, Bandung.

Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. ITB, Bandung.

Lakitan, Benyamin. 1993. Dasar-Dasar Fiiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.












ACARA III
FOTOSINTESIS
BAB I
MATERI DAN METODE
Praktikum Biologi dengan materi Pengenalan Sel dilaksanakan pada hari Senin 8 Oktober 2012 pukul 11.00 – 13.00 WIB di gedung Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

1.1.            Materi
Praktikum Biologi dengan materi fotosintesis memerlukan alat dan bahan. Bahan yang digunakan adalah daun, alkohol, dan JKJ. Alat yang digunakan yaitu alumunium foil untuk menutup daun, kemudian penjepit kertas untuk menjepit alumunium foil yang ditempel pada daun. Gelas beker, kaki tiga dan spirtus untuk merebus daun, cawan petri untuk meletakan daun, kemudian menggunakan pipet tetes untuk menetesi permukaan daun, kemudian catat dan gambar hasil pengamatan.

1.2.      Metode
Memilih daun yang terkena cahaya matahari secara langsung dan menutupinya dengan alumunium foil, kemudian menjepitnya dengan penjepit kertas dan ditutup selama beberapa hari, kemudian petik dan masukan daun kedalam alcohol yang sudah dipanaskan hingga klorofil larut. Kemudian ambil dan letakan pada cawan petri dan teti dengan JKJ pada bagian permukaan daun. Mengamati perubahan warna yang terjadi dan mencatatnya dialat tulis yang telah disediakan.



BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1.      Fotosintesis Daun Gamal tanpa Penutup Alumunium foil
Berdasarkan hasil praktikum fotosintesis, diperoleh hasil sebagai berikut:

1
Keterangan

1. Daun Gamal
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 6. Daun Gamal yang tidak ditutup aluminium foil

1
2
3
4
5
6
Keterangan

1. Gelas Beker
2. Daun Gamal
3. Alkohol
4. Kaki Tiga
5. Spirtus
6. Pinset
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 7. Daun Gamal saat direbus

1

2
Keterangan

1. Cawan Perti
2. Daun Gamal
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 8. Daun Gamal di Cawan Petri

1
2

3
Keterangan

1. Daun Gamal
2. JKJ
3. Cawan Petri
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilusrtrasi 9. Daun Gamal saat ditetesi JKJ

1
2
Keterangan

1. Cawan Petri
2. Daun Gamal berubah warna menjadi hijau kecoklatan
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 10. Perubahan Warna pada Daun Gamal
Dalam praktikum biologi acara fotosintesis ini kita menggunakan daun gamal. Daun gamal adalah daun berbentuk bulat pipih yang biasa tumbuh di pekarangan rumah. Daunnya berwarna hijau dan memiliki ketebalan kurang lebih sekitar 0,5-1 mm. Mula-mula kita menutupi daun gamal dengan menggunakan kertas aluminium foil, sebagai bahan praktikum. Hasil akhir yang kita peroleh nantinya adalah daun gamal yang memiliki warana berbeda pada sisi yang ditutupi dibandingkan dengan sisi yang tidak ditutupi kertas aluminium foil. Daun yang tidak ditutupi kertas aluminium foil terdapat banyak amilum, sebagai tanda bahwa tumbuhan gamal melakukan proses fotosintesis. Proses fotosintesis tumbuhan gamal memerlukan cahaya matahari. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwijoseputro (1990) yang menyatakan bahwa sinar matahari sangat berperan dalam proses fotosintesis. Yang kita lakukan setelah meperoleh dan mempersiapkan daun gamal adalah merebusnya dengan menggunakan alkohol. Tujuan dari perebusan yang kita lakukan adalah agar sel dalam daun mati dan menjadikan sel-sel daun lebih permeabel terhadap JKJ. Saat perebusan, warna hijau daun gamal luntur karena klorofil daun larut dalam alkohol. Warna daun gamal yang telah direbus menjadi hijau kecoklatan, karena sel-selnya mati. Pada daun gamal yang tidak kami tutup ini, setelah kami tetesi dengan JKJ warnanya berubah menjadi biru tua kehitaman. Hal ini menunjukkan bahwa keseluruhan daun gamal yang yang tidak ditutup kertas mengalami fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari dan menghasilkan amilum. Hal ini sesuai dengan pendapat Prawirohartono (1999) yang menyatakan bahwa sinar matahari memiliki peran penuh dalam pembentukan amilum saat fotosintesis.

2.2.      Fotosintesis Daun Gamal dengan Alumunium foil
Berdasarkan hasil praktikum fotosintesis, diperoleh hasil sebagai berikut

1
Keterangan

1. Daun Gamal
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 11. Daun Gamal yang belum ditutup aluminium foil

1

2
Keterangan

1. Daun Gamal
2. Alumunium foil
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 12. Daun Gamal yang sudah ditutup aluminium foil

1
2
3
4
5
6
Keterangan

1. Gelas Beker
2. Daun Gamal
3. Alkohol
4. Kaki Tiga
5. Spirtus
6. Pinset
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 13. Daun Gamal saat direbus

1
2

3
Keterangan

1. Daun Gamal
2. JKJ
3. Cawan Petri
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilusrtrasi 14. Daun Gamal saat ditetesi JKJ

1

Keterangan

1. Daun Gamal berubah warna menjadi hijau kecoklatan
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 15. Perubahan Warna pada Daun Gamal
Daun gamal yang sisi tengahnya kita tutup menggunakan kertas aluminium foil memiliki warna agak cerah. Ini dikarenakan tidak melakukan fotosintesis dan seandainya melakukan fotosintesis, juga hanya menyerap sedikit cahaya matahari. Daun gamal ini kemudian kita rebus menggunakan larutan alkohol sehingga klorofil larut dan amilum lebih mudah bereaksi dengan larutan JKJ. Daun gamal pada cawan ditetesi JKJ dengan tujuan untuk membuat daun menjadi berwarna biru kehitam-hitaman. Daun yang kami tutup menggunakan aluminum foil setelah kita rebus menggunakan alkohol kemudian kita tetesi dengan JKJ menunjukkan warna hijau pucat. Sedangkan yang tidak kita tutup, berwarna kehitaman. Hal ini sesui dengan pendapat Sahtiyon (1989) yang menyatakan bahwa seharusnya terjadi perbedaan antara bgian-bagian yang ditutupi dengan aluminium foil dan yang tidak. Kemudian pendapat yang lain diutarakan Prawirohartono (1999) yang menyatakan bahwa perbedaan yang tampak pada daun menunjukkan bahwa sinar matahari sangat berperan dalam proses fotosintesis. Daun gamal yang tidak ditutup dengan kertas aluminium foil tampak berwarna gelap ketika dibandingkan dengan bagian yang ditutup aluminium foil. Hal ini menunjukkan bahwa pada bagian daun yang tidak tertutup, terbentuk zat amilum yang merupakan hasil fotosintesis.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.      Kesimpulan
Setelah kami lakukan pengamatan pada daun gamal yang normal dan daun gamal yang ditutup kertas aluminium foil, melalui perebusan dengan alkohol terlebih dahulu, selanjutnya ditetesi JKJ, maka dapat kami simpulkan bahwa bagian daun gamal yang kami tutup menggunakan kertas aluminium foil memiliki perbedaan dengan sisi daun yang tidak ditutup kertas aluminium foil. Ketika diuji dengan JKJ, bagian yang ditutup memiliki warna hijau pucat sedangkan bagian daun yang tidak ditutup berwarna kehitaman. Inilah bukti, bahwa sinar matahari memiliki peran penuh dalam fotosintesis tumbuhan.

3.2.      Saran
Penelitian atau prektikum pada daun gamal ini kita lakukan dengan tujuan untuk mengetahui fungsi atau peranan cahaya terhadap proses fotosintesis. matahari memiliki peran penuh dalam fotosintesis tumbuhan.










DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan.PT. Gramedia, Jaakarta.
Prawirohartono. 1999. Sains Biologi. Bumi Aksara, Jakarta.
Sahtiyon. 1989. Biologi 2. Erlangga, Jakarta.








ACARA IV
ANATOMI HEWAN








BAB I
MATERI DAN METODE
Praktikum Biologi dengan materi Anatomi Hewan  dilaksanakan pada hari Senin 15 Oktober 2012 pukul 11.00 – 13.00 WIB di gedung Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

1.1.            Materi
Praktikum Biologi dengan materi anatomi hewan menggunakan beberapa alat dan bahan. Bahan dalam praktikum ini adalah burung merpati, klorofom untuk membius merpati dan alkohol sebagai bahan campuran untuk pembiusan. Alat dalam praktikum ini kami menggunakan alat seperti; gunting untuk memotong kulit merpati, pisau bedah untuk membedah merpati, baki bedah sebagai tempat pembedahan merpati, pinset untuk menyayat kulit merpati, dan jarum untuk mentalip merpati.

1.2.      Metode
Memulai praktikum dengan mengambil merpati kemudian membiusnya menggunakan kapas yang telah diberi klorofom, hingga merpati tersebut pingsan. Meletakan merpati diatas baki bedah dalam posisi terlentang, dan buli dada dibersihkan sebagian. Menempelkan sayap dan ekor merpati pada baki menggunakan jarum agar mempermudah proses pembedahan. Setelah semua siap, maka kami memulai proses pembedahan menggunakan gunting dan pisau bedah. Mengamati dan mencatat semua organ yang terdapat dalam tubuh merpati sekaligus menggambar sistem pencernaan dan sistem pernafasan burung merpati hasil pengamatan organ-organ dalamnya.





















BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1.      Inspectio Burung Merpati
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi hewan diperoleh hasil sebagai berikut
1

2

3

4

5

Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 16. Bagian luar Burung Merpati
Keterangan :    1. Kepala         3. Badan          5. Kaki
                        2. Leher           4. Sayap
Merpati adalah kelompok dari aves selain itu merpati juga memiliki anatomi bagian luar. Berdasarkan praktikum anatomi hewan diketahui merpati memiliki paruh, leher, badan, sayap, ekor dan kaki. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanto (2003) yang menyatakan bahwa burung merpati merupakan hewan vetebrata yang berkelas aves. Slamet (1993) juga menyatakan bahwa burung merpati dapat terbang dan dilengkapi dengan alat tubuh yang sangat kompleks.

2.2.      Morfologi Burung Merpati
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi hewan diperoleh hasil sebagai berikut
1

2


 
3

4

5
6
7

8

9

10

11
12

Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 17. Bagian organ dalam Burung Merpati
Keterangan :    1. Tenggorokan           7. Empedal
                        2. Tembolok                8. Usus Halus
                        3. Jantung                    9. Usus dua belas jari
                        4. Paru-paru                 10. Seka
                        5. Kantung Udara       11. Usus Besar
                        6. Hati                         12. Kloaka
Merpati memiliki organ-organ bagia dalam. Berdasarkan praktikum anatomi hewan diketahui merpati memiliki kerongkongan, tembolok, jantung, paru-paru, kantung udara, hati, empedal, usus halus, usus dua belas jari, seku, usus besar dan kloaka. Tembolok hanya terdapat pada aves yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan, hal ini sesuai dengan pendapat Storer and Usinger (1961) yang menyatakan bahwa tembolok ini berfungsi sebagai organ penyimpanan makanan  dan  membasahi makanan karena terdapat kelenjar susu yang disebut pigeon milk.

2.3.      Digestorium Burung Merpati
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi hewan diperoleh hasil sebagai berikut
1
2
3
4
5
6
7
8

Sumber : Data Primer Praktikum Biolo2gi, 2012
Ilustrasi 18. Sistem pencernaan Burung Merpati
Keterangan :    1. Tenggorokan           5. Usus Besar
                        2. Tembolok                6. Usus Halus
                        3. Proventikulus          7. Usus dua belas jari
                        4. Ventrikulus             8. Kloaka        
Burung merpati yang kami belah ketika prektikum Anatomi Hewan, memiliki beberapa organ pencernaan, diantaranya mulut, kerongkongan, tembolok, lambung, hati, ampela, usus besar, usus halus, seka dan kloaka. Hal ini sesuai pendapat Storer and Usinger(1961) Semua pencernaan pada burung terdiri dari lidah, oesophagus, tembolok, lambung, intestine, caecum, hati, pancreas, jejunum, ileum, rectum dan kloaka. Tembolok hanya terdapat pada aves. Tembolok ini berfungsi sebagai organ penyimpanan makanan dan membasahi makanan karena terdapat kelenjar susu yang disebut pigeon milk . pendapat lain juga diutarakan oleh Walter (1965)Merpati tidak mempunyai tempat persediaan untuk menyimpan makanan yang sesuai sehingga dengan segera akan dikeluarkan

2.4.      Resphiratorium Burung Merpati
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi hewan diperoleh hasil sebagai berikut

1

2

3


Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 19. Sistem pernafasan Burung Merpati
Keterangan :    1. Trakea         3. Kantung Udara
                        2. Paru-paru
Merpati mempunyai sistem pernafasan. Berdasarkan praktikum anatomi hewan diketahui sistem pernafasan merpati meliputi trakea, kantung udara dan paru-paru. Hal ini sesuai dengan pendapat Villee (1988) yang menyatakan bahwa Udara selanjutnya melalui choane dan faring, lalu masuk ke dalam laring yang  dalam keadaan terbuka. Epiglottis menekuk ke belakang jika dinaikkan, juga sesuai dengan pendapat Brotowidjoyo (1993) Sistem respirasi pada Columba domestica terdiri atas trakea yang melanjut sebagai dua  buah  bronchi pada syrinx (alat suara). Paru-paru dilengkapi dengan kantung- kantung udara (ada sembilan buah, empat berpasangan dan  satu median). Fase aktif respirasi itu adalah ekspirasi dan fase inspirasinya yaitu inhalasi


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.      Kesimpulan
Setelah kami lakukan pengamatan pada burung merpati maka dapat disimpulkan bahwa oragan luar merpati terdiri dari paruh, leher, badan, sayap, ekor dan kaki. Sistem pencernaan merpati meliputi tenggorokan, tembolok, proventikulus, ventrikulus, usus besar, usus halus, usus dua belas jari dan kloaka dan sistem pernafasan merpati meliputi lubang hidung, trakea, kantung udara dan paru-paru.

3.2.      Saran
Sebaiknya untuk praktikum yang akan datang bahan yang digunakan untuk disiapkan lebih baik lagi agar mempercepat jalanya praktikum, dan para praktikan harus berhati-hati dalam melakukan pembedahan agar tidak merusak organ-organ dalam yang akan diamati.


DAFTAR PUSTAKA
Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata . Sinar Wijaya, Surabaya.
Storer, and Usinger. 1961. Elemen of Zoology.
Villee, Walker,  Barnes. 1988. General Zoology  6th Edition. W. B. Saunders Company, London







ACARA V
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ORGANISME







BAB I
MATERI DAN METODE
Praktikum Biologi mengenai Pertumbuhan dan Perkembangan ini dilaksanakan pada hari Senin, 5 November 2012 pukul 11.00-13.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

1.1.      Materi
Dalam praktikum pertumbuhan dan perkembangan kali ini menggunakan beberapa bahan seperti tanaman jagung (Zea mays) dan kacang tanah (Arachis hipogaea) yangberumur1minggu, 2minggu, 3minggu dan 4 minggu, air untuk menyiram tanaman dan kapas yang digunakan sebagai media tanam. Serta memakai gelas aqua yang digunakan untuk melakukan penanaman biji jagung dan kacang, penggaris untuk mengukur panjang tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang dan alat tulis untuk menulis dan mencatat hasil pengamatan.

1.2.      Metode
Sebelum melakukan praktikum pertumbuhan dan perkembangan, kami menanam 3 biji jagung dan 3 biji kacang tanah, pada 2 buah pot yang berbeda. Melakukan penanaman ulang dengan jeda 1 minggu satu kali penanaman pada 2 pot yang berbeda dan melakukan langkah tersebut sebanyak 4 kali. Menyiram tanaman tersebut secara rutin dengan air,sehingga menghasilkan tanaman jagungdan kacang tanah dengan umur 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu dan 4 minggu. Pada minggu ke empat, membongkar dan membersihkan kapas yang menempel pada masing – masing tanaman. Setelah itu, mengukur tinggi tanaman menggunakan penggaris, menghitung jumlah daun, mengukur diameter batang menggunakan jangka sorong, mengukur panjang tanaman dan mengukur panjang akar kemudian mencatat hasilnya dalam bentuk tabel kemudian menggambar pertumbuhan dan perkembangan tanaman dalam bentuk grafik.


BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1       PertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung (Zea mays)
            Berdasarkanpengamatan dan penghitungan yangdilakukanpada praktikum Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Jagung dapatdiperoleh hasilsebagaiberikut:
4minggu                      3minggu                      2minggu                      1minggu













1  2  3  4  5              1 2   3 4   5                  1  2 3   4   5              1  2   3   4    5






Sumber : Data Primer PraktikumBiologi, 2012.
Ilustrasi 20.PertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung.
Keterangan :    1. Daun           3. Biji              5. Akar
                        2. Pot               4. Batang






TabelPertumbuhandanPerkembanganpadaTanamanJagung(Zea mays)
Umur
TT (cm)
PT (cm)
JD (helai)
PA (cm)
DB (Cm)
5 minggu
4
57
4
27
0,2
4 minggu
3,5
50
4
20
0,2
3 minggu
3
35
4
5
0,12
2 minggu
2
11
1
3
0,12
Sumber : Data Primer PraktikumBiologi 2012.
Ilustrasi21.PertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung
Keterangan :   1. TT = Tinggi Tanaman
                        2. TP = Tinggi Tanaman
                        3. JD = Jumlah Daun
                        4. PA = Panjang Akar
                        5. DB = Diameter Batang


GrafikPertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012.
Ilustrasi 22. Grafik Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Jagung

Berdasarkanhasilpraktikumbiologipertumbuhandanperkembangandapatdiketahuibahwatanamanjagung yang ditanampadaminggupertamahinggaminggukeempatmengalami peningkatan ukuran.Padaumur 1 minggupanjangtanaman 11 cm, padamingguke 2 panjangnyamencapai35 cm, padamingguketigabertambahmenjadi50 cm danterusbertambahhinggaminggukeempatmencapai57 cm. Pertambahantinggitanamanjagungpadaminggupertamaadalah2 cm danpadaminggukeduatingginyabertambahmenjadi3 cm, mingguketigatingginyasemakinbertambahhinggamencapai3,5 cm danpadaminggukeempattingginyamencapai4 cm.Dari minggupertamahinggakeempatpertumbuhandanperkembanganpada diameter jugaterusbertambah. Hal itumenurut Champbell(2002)dikarenakanselterusmembelahdanberdiferensiasidanmerupakanakibatdariaktivitas meristem lateral.Panjangakartanamanjagungdariminggupertamahinggakeempatjuga terusbertambahpanjang.Hal inidikarenakanpadaujungakarsel – selnyaselalumembelahdisebabkan adanyaaktifitas meristem apikal.Hal inisesuai denganpernyataan Salisbury dan Cleon (2002)bahwapertambahanukuranmudahdirancukandenganpembelahansel di meristem, karenapadaujungakardandaerahujungtajuk (apeks) mempunyai meristem.
Pertumbuhandanperkembanganjugaterjadipadadaunjagung.Padaminggupertamajumlahdaunjagung1 helai, padaminggukeduajumlahdaunnyatumbuhmenjadi 3 helai.Padamingguketigajumlahdaunyaitu4helaidanminggukeempat  mengalamikenaikanyaitutumbuhmenjadi5helai. Hal inisesuaidenganpendapatChampbell (2002) bahwapertumbuhandanperkembangantidakselaludiindentikkandenganjumlah yang terusbertambahkarenapadapertumbuhandanperkembangandipengaruhiolehfaktorhormon yang mempengaruhipemanjangan, danpembelahan sel. Hal inidipertegasolehpendapat Salisbury dan Cleon (2002) yang menyatakanbahwafaktor-faktor yang mempengaruhipertumbuhandanperkembanganadalahfaktor intern danekstern.

2.2.      PertumbuhandanPerkembanganTanamanKacang Tanah (Arachishipogaea)


Berdasarkanpraktikumyang telahdilakukandapatdiketahuipertumbuhandanperkembangantanamankacangtanahsebagaiberikut:










4minggu                      3minggu                      2minggu          1minggu


1  2   3  4   5           1   2   3   4   5           1   2   3    4   5          1   2   3   4   5
GambarTanamanKacang Tanah
                                   




Sumber : Data Primer PraktikumBiologi, 2012.
Ilustrasi23.PertumbuhandanPerkembanganTanamanKacang Tanah
Keterangan :    1. Daun           3. Biji              5. Akar
                        2. Pot               4. Batang






TabelPertumbuhandanPerkembanganKacang Tanah(Arachishipogea)

Umur
TT (cm)
PT (cm)
JD (helai)
PA (cm)
DB (Cm)
1 minggu
2
8
8
3
0,32
2 minggu
5
15
12
4
0,32
3 minggu
5
24
16
8,5
0,33
4 minggu
5
29
20
9
0,33
Sumber : Data Primer PraktikumBiologi 2012.
Ilustrasi 24.PertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung
Keterangan : 1. TT = Tinggi Tanaman
                     2. TP = Tinggi Tanaman
                     3. JD = Jumlah Daun
                     4. PA = Panjang Akar
                     5. DB = Diameter Batang
GrafikPertumbuhandanPerkembanganTanamanKacang Tanah
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi 2012.
Ilustrasi 25. GrafikPertumbuhandanPerkembanganKacang Tanah
            Berdasarkanhasilpengamatanpraktikumpertumbuhandanperkembanganpadatanamankacangtanah, didapatkanpadasetiapminggunyamengalamipertumbuhandanperkembangan.Halinidapatdilihatmelaluipengamatanjumlahdaun, panjangakar, panjangtanaman, tinggitanamandan diameter batang yang mengalamipertumbuhan. Hal inisesuaidenganpendapatGuritno (2005) bahwapertumbuhanadalah proses kehidupantanaman yang mempunyaikemampuanuntukmelakukanperubahanukuran, bentuk, danjumlahpadakondisitertentudandipengaruhifaktor luar. Sesuai data yang ada di tabel, pertumbuhantanamankacangtanahsedangmengalamipertumbuhanpadaperiodelambanpadaumur 2-4 minggu.Periodelambanmempunyaiciriadanyasedikitpertumbuhan, organisminisedanmempersiapkandiriuntuktumbuh.Hal tersebutsesuaidenganpendapat Kimball (1998) bahwaperiodelambanmempunyaicirisedikitpertumbuhanatautidakadapertumbuhan yang sebenarnya.
Perubahanukuranpadatanamantersebutdisebabkanolehfaktorluaryakninutrisi, airdancahaya. Air berpengaruhpadapertumbuhan, jikatidakada air tumbuhantersebutakanmatiatautidaktumbuh. Sedangkantanaman yang kekurangan air akanmengakibatkanakartumbuhpendekdanbanyak. Hal inisesuaidenganpendapatGuritno (2005) yang menyatakanbahwatanaman yang tumbuhkekurangan air membentukakarlebihbanyakdenganhasil yang lebihrendahdaritanaman yang tumbuhdalamkeadaancukup air.Cahayaberpengaruhpadapertumbuhan,sesuaipernyataanGuritno (2005)bahwayang tumbuhditempatgelapakanlebihtinggidaripadatanaman yang terkenacahaya.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.            Kesimpulan
Dari hasil praktikum pertumbuhan dan perkembangan dapat disimpulkan bahwa organisme mengalami pertumbuhan yang dibuktikan dengan pertambahan panjang dan perkembangan yang dibuktikan dengan perubahan ke arah pendewasaan atau penuaan. Proses pertumbuhandanperkembangantanamanjagungdankacangtanahterusmengalamiperubahandibuktikan denganbertambahnyatinggi, jumlahdaun, diameter akardanbatangpadatanaman. Pertumbuhandanperkembangantanamantersebutdipengaruhiolehfaktordariluarmaupundaridalam.Faktordaridalamberupahormonsedangfaktordariluaryaitucahayamatahari, suhuudara, kelembabanudara, tanah, nutrisidan air
3.2.      Saran
Dalampelaksanaanpraktikumsebaiknya  praktikanmemperhatikansemuabahan yang akandigunakanuntukpraktikum. Mulaidaripersiapan pemilihanbibitjagungdankacangtanah yang akanditanamdancarapemeliharaannyasehinggabiji – bijijagungdankacangtanahdapattumbuhdenganbaik. Dan hendaknya dalampengukuranharusdilakukandengantelitidancermatsehingga dapat diperoleh data yang lebihakurat.

DAFTAR PUSTAKA
Champbell.N A. 2002.BiologiJilid 2. Erlangga: Jakarta.
Champbell.N A. 2003.BiologiJilid 3. Erlangga: Jakarta.
Guritno. 2005. AnalisisPertumbuhanTanaman. UniversitasGadjahMada Press, Yogyakarta.

Kimball, J.W. 1998. Biologi Jilid 2. Erlangga,Jakarta
Salisbury, Frank B dan Cleon W Ross. 2002. FisiologiTumbuhanJilid III. InstitutTeknik Bandung. Bandung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar