ACARA I
PENGENALAN
SEL
BAB I
MATERI
DAN METODE
Praktikum Biologi dengan materi
Pengenalan Sel dilaksanakan pada hari Senin 1 Oktober 2012 pukul 11.00 – 13.00
WIB di gedung Laboratorium Fisiologi
dan Biokimia Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro,
Semarang.
1.1 . Materi
Praktikum Pegenalan Sel menggunakan
alat-alat seperti: mikroskop yang berfungsi untuk melihat benda mikroskopis, kaca objek
dan kaca penutup yang berfungsi untuk meletakan objek. Selain itu, kami juga menyediakan
beberapa bahan antara lain daun Rhoe
discolor dan sel hewan (usus tikus).
1.2 Metode
Metode praktikum kami lakukan dengan cara menyayat daun Rhoe discolor dan sel hewan (usus tikus)
setipis mungkin dengan menggunakan silet, kemudian meletakanya diatas objek
yang sudah kami tetesi dengn air. Kami melakukan hal yang sama sebanyak dua kali.
Setelah itu, sayatan Rhoe Dicolor kami tetesi dengan air lalu kami tutup
menggunakan kaca penutup, kemudian kami mengamati dan menggambar bagian –
bagian sel Rhoe Dicolor dan sel tikus
yang terlihat.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1. Struktur Sel Tananman Rhoe Discolor
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum
pengenalan Sel diperoleh hasil sebagai berikut :
|
Perbesaran 40 kali
|
Perbesaran 100 kali
|
|
|
|
Sumber: Data
Primer Praktikum Biologi 2012.
Ilustrasi 1. Penampang sel Rhoe Discolor
Keterangan : 1. Inti sel 3. Stomata
2. Sitoplasma 4. Dinding sel
Rhoe Dicolor memiliki beberapa sel penyusun penampang daun. Berdasarkan praktikum,
kami melihat dan memperoleh hasil bahwa daun Rhoe discolor memiliki dinding sel, sitoplasma, stomata dan
nukleus. Dinding sel merupakan organel yang memisahkan antara ruang satu dengan
ruang lainnya, hal ini sesuai dengan pendapat Yatim (1991) yang menyatakan
bahwa fungsi dinding sel sebagai filter dari segala unsur yang masuk atau
keluar dari sel serta sebagai pelindung sel. Sitoplasma terletak diantara
dinding sel dan nukleus, hal ini sesuai dengan Kimball (1993) yang menyatakan bahwa sitoplasma
merupakan cairan yang mengisi ruangan antara dinding sel dengan nukleus atau
inti sel yang merupakan sistem koloid. Nukleus terletak ditengah sel daun Rhoe Discolor, hal ini sesuai dengan
pendapat Greulach dan Adams (1997) yang menyatakan bahwa nukleus atau inti sel
merupakan pengatur seluruh aktivitas sel
2.2.
Struktur Sel Hewan
(Usus Tikus Putih)
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum
Pengenalan sel diperoleh hasil sebagai berikut :
|
Perbesaran
40 kali
|
Perbesaran
100 kali
|
|
|
|
Sumber : Data
Primer Praktikum Biologi 2012.
Ilustrasi 2. Penampang sel hewan (Usus Tikus Putih)
Keterangan : 1. Membran sel 5. Golgi kompleks
2. Inti sel 6. Retikulum Endoplasma
3. Sitoplasma
4. Mitokondria
Tikus putih memiliki beberapa sel
penyusun jaringan. Berdasarkan praktikum dan pengamatan melalui mikroskop yang
kami lakukan, kami menemukan Inti sel, membran sel, sitoplasma, mitokondria,
golgi kompleks dan retikulum endoplama. Inti sel terletak ditengah dan
berfungsi sebagai pengatur koordinasi semua aktifitas sel, hal ini sesuai
dengan pendapat Yatim (1991) yang menyatakan bahwa inti sel adalah organel yang
berfungsi sebagai pusat koordinasi aktifitas seluruh sel. Membran sel berfungsi
sebagai pelindung bagian dibawahnya seperti nukleus dan sitoplasma, hal ini
sesuai dengan pendapat Pratiwi (2004) yang menyatakan bahwa membran sel
merupkan membran yang sangat tipis yang berfungsi melindungi bagian didalamnya
dan mengatur peredaran zat-zat dalam sitoplasma.
2.3. Perbedaan Sel
Hewan dan Sel Tumbuhan
Sel hewan dan tumbuhan termasuk sel eukariotik yang
memiliki selaput inti, namun secara umum ssel hewan dan sel tumbuhan tidak
memiliki perbedaan yang mendasar, hanya saja perbedaan pada bagian struktur atau
organ-organ tertentu. Sel tumbuhan memiliki dinding sel, membrane sel, inti
sel, sitoplasma, kutikula, dan epidermis sedangkan sel hewan memiliki vakuola,
retikulim endoplasma dan membrane sel. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sumandi
(2000) bahwa sel hewan dan sel tumbuhan memiliki perbedaan pada organ tertentu.
Sel tumbuhan memiliki membrane sel, sitoplaasma, reticulum endoplasma, inti sel
(nukleus), mitokondria, ribosom, plastid, dan vakuola. Perbedaan sel hewan
terletak pada sentriol, sentrosom, lisosom, dan flagel silia, juga sesuai
dengan pendapat Kimball (1992) yang menyatakan bahwa ada perbedaan antara
tanaman dikotil dan tanaman monokotil pada organ-organ tertentu seperti
akar,daun dan lain-lain.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Daun Rhoe discolor memiliki dinding sel,
sitoplasma, stomata, krital pasir dan nukleus. Setelah dilakukan pengamatan
pada sel hewan dan sel tumbuhan maka kami simpulkan bahwa terdapat perbedaan
antara sel hewan dan sel tumbuhan. Pada sel tumbuhan terdapat dinding sel dan
stomata, sedangkan pada sel hewan tidak ada organel tersebut.
3.2. Saran
Sebaiknya apabila
melakukan praktikum menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 kali supaya
tampilan objek yang diamati nampak jelas terlihat. Dan juga setiap praktikan
difasilitasi alat dan bahan sendiri-sendiri supaya dalam mengamati objek lebih
focus dan leluasa.
DAFTAR PUSTAKA
Yatim, W. 1991. Biologi Modern Biologi
Sel.Tarsito, Bandung
Kimball, J.W. 1994. Biologi Jilid I Edisi kelima. Erlangga, Jakarta.
Pratiwi, D,A. 2004. Biologi Sains. Erlangga,
Jakarta.
Greulach dan Adams. 1997. Fisiologi
Tumbuhan. Tarsito, Bandung
ACARA II
PENGENALAN
JARINGAN TUMBUHAN
BAB I
Praktikum Biologi
dengan materi Pengenalan Jaringan Tumbuhan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal
1 Oktober
2012 pukul 11.00 – 13.00 WIB di Laboratorium Fisiologi Dan Biokimia Ternak,
Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
1.1. Materi
Praktikum
menggunakan alat berupa mikroskop yang berfugsi untuk melihat benda
mikroskopis, kaca objek dan kaca penutup yang berfungsi untuk meletakkan objek
yang akan diamati. Selain alat-alat itu tadi, dalam acara II ini kita siapkan
penampang jaringan tanaman jagung dan penampang jaringan tanaman kacang tanah.
Sel-sel yang menyusun tubuh menjadi terspesialisasi untuk menjalankan berbagai
fungsi hidup. Jaringan merupakan sekelompok sel yang memiliki bentuk susunan
dan fungsi yang sama.
1.2. Metode
Metode praktikum kami melakukan dengan
cara mengamati jaringan yang sudah dipersiapkan. Kita tinggal mengamati dan menyiapkan
jaringan
batang dan akar jagung serta akar kacang tanah. Dari masing-masing bahan ini,
kami mengiris tipis dengan silet untuk diteliti struktur jaringannya. Setelah
selesai mengiris, kemudian menaruh di kaca preparat untuk kemudian meneliti
struktur penyusunnya.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1. Struktur Jaringan Batang dan Akar Tanaman
Jagung
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan
pada praktikum Pengenalan Sel diperoleh hasil sebagai berikut :
|
Perbesaran 40 kali
|
Perbesaran 100 kali
|
|
|
|
Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2012.
Ilustrasi 3. Penampang jaringan
batang tanaman jagung
Keterangan: 1. epidermis 3. floem
2.
kortek 4.
Xylem
|
Perbearan 40 X
|
Perbesaran 100 X
|
|
|
|
Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2012.
Ilustrasi 4. Jaringan akar jagung
Keterangan: 1. xilem 4. endodermi
2. floem 5. Epidermis
3. korteks
Tanaman
jagung memiliki banyak sel penyusun batang, berdasarkan praktikum kami dapat
melihat epidermis, kortex, floem dan xilem. Hal ini sesuai dengan pendapat Iserep (1993) yang menyatakan bahwa jaringan penyusun batang tanaman monokotil terdiri dari epidermis,
korteks, floem, xilem dan endodermis. Saat mengamati sel batang jagung, kami
sulit membedakan batas antara korteks dengan silinder pusat. Hal ini diperjelas
oleh Hidayat (1995) yang
menyatakan bahwa Epidermis batang tanaman monokotil
terdiri dari satu lapis sel sehingga batas antara kortexs dan stele (silinder
pusat) terlihat tidak jelas dan sulit dibedakan. Kortexs pada batang jagung
merupakan daerah diantara epidermis dan silinder pembuluh paling luar. Xilem
tanaman jagung bertugas mengangkut air dan garam-garam mineral terlarut dari
akar ke seluruh bagian tubuh tanaman jagung, sedangkan floem bertugas mengangkut
hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Jaringan
epidermis batang jagung berfungsi melindungi jaringan di sebelah dalamnya,
karena jaringan ini letaknya di sebelah luar, sebagaimana kami telah melihatnya.
Akar tanaman jagung memiliki banyak sel penyusun.
Sebagaimana kami telah melihatnya, kami menemukan ada bagian xilem, floem,
korteks, epidermis, dan endodermis. Hal
ini sesuai dengan
pendapat Campbell (1991), Jaringan
tumbuhan merupakan sekumpulan sel-sel tumbuhan yang mempunyai bentuk, asal, struktur dan fungsi yang sama. Jaringan dasar akar sebagian besar terdiri dari parenkim, korteks,
xilem, floem, endodermis, daerah antara silinder vaskular dan epidermis. Hal
ini diperjelas Reece (2009) yang menyatakan bahwa kebanyakan akar tumbuhan
monokotil, jaringan vaskularnya terdiri dari sel parenkim dikelilingi oleh
cincin yang berupa xylem dan floem. Bagian tengahnya sering disebut empulur dan terdapat endodermis. Bagian luarnya terdapat
jaringan epidermis yang berfungsi sebagai pelindung.
2.3. Struktur Jaringan Akar Tanaman Kacang Tanah
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan
pada praktikum Pengenalan Sel dan Jaringan diperoleh hasil sebagai berikut :
|
Perbearan 40 X
|
Perbesaran 100 X
|
|
|
|
Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2012.
Ilustrasi 5. Jaringan akar kacang tanah
Keterangan: 1. xilem 4. Kambium
2. floem 5. Epidermis
3. korteks
Akar kacang tanah memiliki banyak sel penyusun. Berdasarkan
praktikum yang telah kami lakukan diperoleh hasil bahwa tanaman kacaang tanah
memiliki xilem, floem, kambium, korteks dan epidermis. Xilem berfungsi menyerap
air dan mineral dari dalam tanah melalui akar. Hal ini sesuai dengan pendapat Pratiwi (2004)
yang menyatakan bahwa jaringan xilem berfungsi sebagai pengangkut air dan
garam-garam mineral dari dalam tanah melalui akar ke daun yang akan disebarkan
ke seluruh tubuh, bentuk sel-sel xilem memanjang dan membentuk zat pembuluh.
Floem berfungsi sebagai pengangkut hasil fotosintesis. Hal ini sesuai dengan pendapat Kimball (1991) yang menyatakan bahwa
floem berfungsi sebagai pengangkut zat-zat makanan hasil fotosintesis dari daun
keseluruh tubuh tumbuhan. Kami juga melihat epidermis, lapisan sel paling luar
pada akar yang berfungsi untuk memproteksi terhadap kerusakan mekanis dan apa bila
kehilangan air yang berlebihan. Selain itu kami juga melihat korteks, bentuknya beberapa lapisan sel
yang berdinding tipis. Hal ini sesuai pendapat Benyamin (1993) Dending korteks bersifat sangat permeable, memiliki bentuk tipis dan
berlapis-lapis sehingga memungkinkan air dari permukaan akar bergerak menuju
pembuluh xilem melalui dinding sel korteks.
2.4. Perbedaan Tanaman Monokotil dan Dikotil
Tumbuhan monokotil memiliki kotiledon setiap biji
satu buah, akarnya serabut, tidak berkambium, susunan tulang daunnya sejajar
aatau melengkung dan bagian bunga umumnya tiga atau kelipatannya. Hal ini
sesuai dengan pendapat Friend (1999) bahwa tumbuhan monokotil memiliki akar
serabut, memiliki satu buah kotiledon pada setiap biji, akar dan batang tidak
berkambium, susunan tulang dan daun sejajar, jumlah bunga tiga atau
kelipatannya, serta memiliki kaliptrogen. Sedangkan tumbuhan dikotil mempunyai
dua lembaga dan akar lembaganya kemudian menjadi akar tunggang yang bercabang
menjadi sistem akar tunggang serta batangnya memiliki kambium untuk pertumbuhan
menebal sekunder. Bentuk daunnya lebar, pipih, dan tulang daunnya menjari. Hal
ini sependapat dengan Steenis (1999) bahwa tumbuhan monokotil tergolong
subdivisio Angiospermae. Angiospermae memiliki ciri-ciri daun berbentuk pipih,
lebar, dengan susunan tulang yang beraneka ragam.
BAB III
KESIMPULAN
DAN SARAN
3.1 KESIMPULAN
Setelah dilakukan
pengamatan pada struktur Jaringan Tanaman Kacang Tanah dan Struktur Jaringan Tanaman Jagung menggunakan
mikroskop, maka dapat kita simpulkan bahwa tanaman monokotil memiliki perbedaan
dengan dikotil, baik jika dilihat dari bentuk penampilannya ataupun setelah
diteliti menggunakan mikroskop.
3.2 SARAN
Penelitian atau praktikum ini kita lakukan dengan tujuan untuk mengetahui
struktur jaringan tanaman monokotil dan dikotil. Penulis menyarankan kepada
para pembaca supaya mau memberikan masukan untuk menambah wawasan bagi penulis.
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell, Neil and Jane B Reece. 1991. Biology
Second Edition. San Francisco: Benjamin Cummings.
Campbell, Neill and Jane B Reece. 2009. Biology
Eight Edition. San Francisco: Benjamin Cummings.
Hitayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Biji. ITB,
Bandung.
Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan
Tumbuhan. ITB, Bandung.
Lakitan, Benyamin. 1993. Dasar-Dasar Fiiologi
Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
ACARA
III
FOTOSINTESIS
BAB I
BAB I
MATERI DAN METODE
Praktikum
Biologi dengan materi Pengenalan Sel dilaksanakan pada hari Senin 8 Oktober
2012 pukul 11.00 – 13.00 WIB di gedung Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak, Fakultas Peternakan dan
Pertanian, Universitas Diponegoro,
Semarang.
1.1.
Materi
Praktikum
Biologi dengan materi fotosintesis memerlukan
alat dan bahan. Bahan yang digunakan adalah daun, alkohol, dan JKJ. Alat yang
digunakan yaitu alumunium foil untuk menutup daun, kemudian penjepit kertas
untuk menjepit alumunium foil yang ditempel pada daun. Gelas beker, kaki tiga
dan spirtus untuk merebus daun, cawan petri untuk meletakan daun, kemudian
menggunakan pipet tetes untuk menetesi permukaan daun, kemudian catat dan
gambar hasil pengamatan.
1.2. Metode
Memilih daun
yang terkena cahaya matahari secara langsung dan menutupinya dengan alumunium
foil, kemudian menjepitnya dengan penjepit kertas dan ditutup selama beberapa
hari, kemudian petik dan masukan daun kedalam alcohol yang sudah dipanaskan
hingga klorofil larut. Kemudian ambil dan letakan pada cawan petri dan teti
dengan JKJ pada bagian permukaan daun. Mengamati perubahan warna yang terjadi
dan mencatatnya dialat tulis yang telah disediakan.
BAB
II
HASIL
DAN PEMBAHASAN
2.1. Fotosintesis Daun Gamal tanpa Penutup
Alumunium foil
Berdasarkan hasil praktikum
fotosintesis, diperoleh hasil sebagai berikut:
![]() |
1
|
Keterangan
1.
Daun Gamal
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi
6.
Daun Gamal yang tidak ditutup aluminium foil
![]() |
1
2
3
4
5
6
|
Keterangan
1. Gelas Beker
2. Daun Gamal
3. Alkohol
4. Kaki Tiga
5. Spirtus
6. Pinset
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi
7.
Daun Gamal saat direbus
![]() |
1
2
|
Keterangan
1.
Cawan Perti
2.
Daun Gamal
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi
8.
Daun Gamal di Cawan Petri
![]() ![]() ![]() ![]() |
1
2
3
|
Keterangan
1.
Daun Gamal
2.
JKJ
3.
Cawan Petri
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilusrtrasi
9.
Daun Gamal saat ditetesi JKJ
![]() |
1
2
|
Keterangan
1.
Cawan Petri
2.
Daun Gamal berubah warna menjadi hijau kecoklatan
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi
10.
Perubahan Warna pada Daun Gamal
Dalam
praktikum biologi acara fotosintesis ini kita menggunakan daun gamal. Daun
gamal adalah daun berbentuk bulat pipih yang biasa tumbuh di pekarangan rumah.
Daunnya berwarna hijau dan memiliki ketebalan kurang lebih sekitar 0,5-1 mm. Mula-mula
kita menutupi daun gamal dengan menggunakan kertas aluminium foil, sebagai
bahan praktikum. Hasil akhir yang kita peroleh nantinya adalah daun gamal yang
memiliki warana berbeda pada sisi yang ditutupi dibandingkan dengan sisi yang
tidak ditutupi kertas aluminium foil. Daun yang tidak
ditutupi kertas aluminium foil terdapat banyak amilum, sebagai tanda bahwa
tumbuhan gamal melakukan proses fotosintesis. Proses fotosintesis tumbuhan
gamal memerlukan cahaya matahari. Hal ini sesuai dengan
pendapat Dwijoseputro (1990) yang menyatakan bahwa sinar matahari sangat
berperan dalam proses fotosintesis. Yang
kita lakukan setelah meperoleh dan mempersiapkan daun gamal adalah merebusnya
dengan menggunakan alkohol. Tujuan dari perebusan yang kita lakukan adalah agar
sel dalam daun mati dan menjadikan sel-sel daun lebih permeabel terhadap JKJ. Saat perebusan,
warna hijau daun gamal luntur karena klorofil daun larut dalam alkohol. Warna
daun gamal yang telah direbus menjadi hijau kecoklatan, karena sel-selnya mati.
Pada daun gamal yang tidak kami tutup ini, setelah kami tetesi dengan JKJ
warnanya berubah menjadi biru tua kehitaman. Hal ini menunjukkan bahwa
keseluruhan daun gamal yang yang tidak ditutup kertas mengalami fotosintesis
dengan bantuan cahaya matahari dan menghasilkan amilum.
Hal ini sesuai dengan pendapat Prawirohartono (1999) yang menyatakan bahwa
sinar matahari memiliki peran penuh dalam pembentukan amilum saat fotosintesis.
2.2. Fotosintesis Daun Gamal dengan Alumunium
foil
Berdasarkan hasil praktikum
fotosintesis, diperoleh hasil sebagai berikut
![]() |
1
|
Keterangan
1.
Daun Gamal
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi
11.
Daun Gamal yang belum ditutup aluminium foil
![]() |
1
2
|
Keterangan
1.
Daun Gamal
2.
Alumunium foil
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi
12.
Daun Gamal yang sudah ditutup aluminium foil
![]() |
1
2
3
4
5
6
|
Keterangan
1.
Gelas Beker
2.
Daun Gamal
3.
Alkohol
4.
Kaki Tiga
5.
Spirtus
6.
Pinset
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi
13.
Daun Gamal saat direbus
![]() ![]() ![]() ![]() |
1
2
3
|
Keterangan
1.
Daun Gamal
2.
JKJ
3.
Cawan Petri
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilusrtrasi
14.
Daun Gamal saat ditetesi JKJ
![]() |
1
|
Keterangan
1.
Daun Gamal berubah warna menjadi hijau kecoklatan
|
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi
15.
Perubahan Warna pada Daun Gamal
Daun gamal yang
sisi tengahnya kita tutup menggunakan kertas aluminium foil memiliki warna agak
cerah. Ini dikarenakan tidak melakukan fotosintesis dan seandainya melakukan
fotosintesis, juga hanya menyerap sedikit cahaya matahari. Daun gamal ini
kemudian kita rebus menggunakan larutan alkohol sehingga klorofil larut dan
amilum lebih mudah bereaksi dengan larutan JKJ. Daun gamal pada cawan ditetesi
JKJ dengan tujuan untuk membuat daun menjadi berwarna biru kehitam-hitaman.
Daun yang kami tutup menggunakan aluminum foil setelah kita rebus menggunakan
alkohol kemudian kita tetesi dengan JKJ menunjukkan warna hijau pucat.
Sedangkan yang tidak kita tutup, berwarna kehitaman. Hal
ini sesui dengan pendapat Sahtiyon (1989) yang menyatakan bahwa seharusnya
terjadi perbedaan antara bgian-bagian yang ditutupi dengan aluminium foil dan
yang tidak. Kemudian pendapat yang lain diutarakan Prawirohartono (1999)
yang menyatakan bahwa perbedaan yang tampak pada daun menunjukkan bahwa sinar
matahari sangat berperan dalam proses fotosintesis. Daun gamal yang tidak
ditutup dengan kertas aluminium foil tampak berwarna gelap ketika dibandingkan
dengan bagian yang ditutup aluminium foil. Hal ini menunjukkan bahwa pada
bagian daun yang tidak tertutup, terbentuk zat amilum yang merupakan hasil
fotosintesis.
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Setelah kami
lakukan pengamatan pada daun gamal yang normal dan daun gamal yang ditutup
kertas aluminium foil, melalui perebusan dengan alkohol terlebih dahulu,
selanjutnya ditetesi JKJ, maka dapat kami simpulkan bahwa bagian daun gamal
yang kami tutup menggunakan kertas aluminium foil memiliki perbedaan dengan
sisi daun yang tidak ditutup kertas aluminium foil. Ketika diuji dengan JKJ,
bagian yang ditutup memiliki warna hijau pucat sedangkan bagian daun yang tidak
ditutup berwarna kehitaman. Inilah bukti, bahwa sinar matahari memiliki peran
penuh dalam fotosintesis tumbuhan.
3.2. Saran
Penelitian atau
prektikum pada daun gamal ini kita lakukan dengan tujuan untuk mengetahui
fungsi atau peranan cahaya terhadap proses fotosintesis. matahari memiliki
peran penuh dalam fotosintesis tumbuhan.
DAFTAR
PUSTAKA
Dwijoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi
Tumbuhan.PT. Gramedia, Jaakarta.
Prawirohartono. 1999. Sains Biologi. Bumi
Aksara, Jakarta.
Sahtiyon. 1989. Biologi 2. Erlangga, Jakarta.
ACARA IV
ANATOMI HEWAN
BAB I
MATERI DAN METODE
Praktikum
Biologi dengan materi
Anatomi Hewan dilaksanakan pada hari Senin 15
Oktober 2012 pukul 11.00 – 13.00 WIB di gedung Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak, Fakultas
Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
1.1.
Materi
Praktikum
Biologi dengan materi anatomi hewan menggunakan beberapa alat dan
bahan. Bahan dalam praktikum
ini adalah burung merpati, klorofom untuk membius merpati dan alkohol
sebagai bahan campuran untuk pembiusan.
Alat dalam praktikum ini kami menggunakan alat
seperti; gunting untuk memotong kulit merpati, pisau bedah
untuk membedah merpati, baki
bedah sebagai tempat pembedahan merpati, pinset untuk
menyayat kulit merpati, dan jarum untuk mentalip merpati.
1.2. Metode
Memulai praktikum dengan mengambil merpati kemudian membiusnya menggunakan kapas yang telah diberi klorofom, hingga merpati tersebut pingsan. Meletakan merpati diatas baki bedah dalam posisi
terlentang, dan buli dada
dibersihkan sebagian. Menempelkan sayap dan
ekor merpati pada baki menggunakan jarum agar mempermudah proses pembedahan. Setelah semua siap, maka kami memulai proses pembedahan menggunakan gunting dan pisau bedah. Mengamati
dan mencatat
semua organ yang terdapat dalam tubuh merpati
sekaligus menggambar sistem pencernaan dan sistem pernafasan
burung merpati hasil pengamatan
organ-organ dalamnya.
BAB II
HASIL DAN
PEMBAHASAN
2.1. Inspectio Burung Merpati
Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi hewan diperoleh hasil sebagai
berikut
![]() ![]() ![]() ![]() |
1
2
3
4
5
|
|
Sumber : Data Primer
Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 16. Bagian luar Burung Merpati
Keterangan : 1. Kepala 3. Badan 5. Kaki
2. Leher 4.
Sayap
Merpati
adalah kelompok dari aves selain itu merpati juga memiliki anatomi bagian luar.
Berdasarkan praktikum anatomi hewan diketahui merpati memiliki paruh, leher, badan,
sayap, ekor dan kaki. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanto (2003) yang
menyatakan bahwa burung merpati merupakan hewan vetebrata yang berkelas aves.
Slamet (1993) juga menyatakan bahwa burung merpati dapat terbang dan dilengkapi
dengan alat tubuh yang sangat kompleks.
2.2. Morfologi Burung Merpati
Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi hewan diperoleh hasil sebagai
berikut
1
3
4
5
6
|
![]() ![]() ![]() ![]() |
7
8
9
10
11
12
|
|
Sumber : Data Primer
Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 17. Bagian organ dalam Burung Merpati
Keterangan : 1. Tenggorokan 7. Empedal
2.
Tembolok 8. Usus Halus
3.
Jantung 9. Usus dua belas
jari
4.
Paru-paru 10. Seka
5.
Kantung Udara 11. Usus Besar
6. Hati 12.
Kloaka
Merpati
memiliki organ-organ bagia dalam. Berdasarkan praktikum anatomi hewan diketahui
merpati memiliki kerongkongan, tembolok, jantung, paru-paru, kantung udara, hati,
empedal, usus halus, usus dua belas jari, seku, usus besar dan kloaka. Tembolok hanya terdapat pada aves yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan
makanan, hal ini sesuai dengan pendapat Storer and Usinger (1961) yang menyatakan bahwa tembolok ini berfungsi sebagai organ penyimpanan makanan
dan membasahi makanan karena terdapat kelenjar susu yang disebut pigeon milk.
2.3. Digestorium Burung Merpati
Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi hewan diperoleh hasil sebagai
berikut
![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
1
2
3
4
5
6
7
8
|
|
Sumber : Data Primer
Praktikum Biolo2gi, 2012
Ilustrasi 18. Sistem pencernaan Burung Merpati
Keterangan : 1. Tenggorokan 5. Usus Besar
2. Tembolok 6. Usus Halus
3.
Proventikulus 7. Usus
dua belas jari
4. Ventrikulus 8. Kloaka
Burung merpati yang kami
belah ketika prektikum Anatomi Hewan, memiliki beberapa organ pencernaan,
diantaranya mulut, kerongkongan, tembolok, lambung, hati, ampela, usus besar,
usus halus, seka dan kloaka. Hal ini sesuai pendapat Storer and Usinger(1961)
Semua pencernaan pada burung terdiri dari lidah, oesophagus, tembolok, lambung,
intestine, caecum, hati, pancreas, jejunum, ileum, rectum dan kloaka. Tembolok hanya
terdapat pada aves. Tembolok ini berfungsi sebagai organ penyimpanan makanan
dan membasahi makanan karena terdapat kelenjar susu yang disebut pigeon milk .
pendapat lain juga diutarakan oleh Walter (1965)Merpati tidak mempunyai tempat
persediaan untuk menyimpan makanan yang sesuai sehingga dengan segera akan
dikeluarkan
2.4. Resphiratorium Burung Merpati
Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi hewan diperoleh hasil sebagai
berikut
![]() ![]() |
1
2
3
|
|
Sumber : Data Primer
Praktikum Biologi, 2012
Ilustrasi 19. Sistem pernafasan Burung Merpati
Keterangan : 1. Trakea 3. Kantung Udara
2. Paru-paru
Merpati mempunyai sistem pernafasan.
Berdasarkan praktikum anatomi hewan diketahui sistem pernafasan merpati
meliputi trakea, kantung udara
dan paru-paru. Hal ini sesuai dengan pendapat Villee (1988) yang menyatakan bahwa Udara selanjutnya melalui choane dan faring, lalu masuk ke dalam
laring yang
dalam keadaan terbuka. Epiglottis menekuk ke
belakang jika dinaikkan, juga sesuai dengan pendapat Brotowidjoyo (1993) Sistem respirasi pada Columba
domestica terdiri atas trakea yang melanjut sebagai dua buah bronchi pada syrinx (alat suara). Paru-paru dilengkapi dengan kantung- kantung udara (ada sembilan buah, empat berpasangan
dan satu median). Fase aktif respirasi
itu adalah ekspirasi dan fase inspirasinya yaitu inhalasi
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Setelah
kami lakukan pengamatan pada burung merpati maka dapat disimpulkan bahwa oragan
luar merpati terdiri dari paruh, leher, badan, sayap, ekor dan kaki. Sistem
pencernaan merpati meliputi tenggorokan, tembolok, proventikulus,
ventrikulus, usus besar, usus halus, usus dua belas jari dan kloaka dan sistem pernafasan merpati meliputi lubang
hidung, trakea, kantung udara
dan paru-paru.
3.2. Saran
Sebaiknya untuk praktikum yang akan datang bahan yang digunakan untuk
disiapkan lebih baik lagi agar mempercepat jalanya praktikum, dan para
praktikan harus berhati-hati dalam melakukan pembedahan agar tidak merusak
organ-organ dalam yang akan diamati.
DAFTAR
PUSTAKA
Djuhanda,
T. 1982. Pengantar Anatomi
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata . Sinar Wijaya, Surabaya.
Storer, and Usinger. 1961.
Elemen
of Zoology.
Villee,
Walker, Barnes. 1988. General Zoology 6th Edition. W. B. Saunders Company, London
ACARA V
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ORGANISME
BAB I
MATERI
DAN METODE
Praktikum Biologi mengenai
Pertumbuhan dan Perkembangan ini dilaksanakan pada hari Senin, 5 November 2012 pukul 11.00-13.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak,
Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.
1.1. Materi
Dalam praktikum pertumbuhan
dan perkembangan kali ini menggunakan beberapa bahan seperti tanaman jagung (Zea mays) dan kacang tanah (Arachis hipogaea) yangberumur1minggu, 2minggu, 3minggu dan 4 minggu, air untuk menyiram tanaman dan kapas
yang digunakan sebagai media tanam. Serta memakai gelas aqua yang digunakan untuk melakukan penanaman biji jagung dan kacang, penggaris untuk mengukur panjang tanaman, jangka sorong untuk mengukur diameter batang
dan alat tulis untuk menulis dan
mencatat hasil pengamatan.
1.2. Metode
Sebelum
melakukan praktikum pertumbuhan dan perkembangan, kami menanam 3 biji
jagung dan 3 biji kacang tanah, pada 2 buah pot yang berbeda. Melakukan penanaman ulang dengan jeda 1 minggu satu kali penanaman pada 2
pot yang berbeda dan melakukan langkah tersebut sebanyak 4
kali. Menyiram tanaman tersebut secara rutin dengan air,sehingga menghasilkan tanaman jagungdan kacang tanah dengan umur 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu dan 4 minggu. Pada minggu ke empat, membongkar dan membersihkan kapas yang menempel pada masing – masing
tanaman. Setelah itu, mengukur tinggi tanaman menggunakan penggaris, menghitung
jumlah daun, mengukur diameter batang menggunakan
jangka sorong, mengukur panjang tanaman dan mengukur panjang akar kemudian mencatat hasilnya dalam bentuk tabel kemudian menggambar pertumbuhan dan perkembangan tanaman dalam bentuk grafik.
BAB
II
HASIL
DAN PEMBAHASAN
2.1 PertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung (Zea mays)
Berdasarkanpengamatan dan penghitungan yangdilakukanpada
praktikum Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Jagung dapatdiperoleh hasilsebagaiberikut:
|
4minggu 3minggu 2minggu 1minggu
1 2
3 4 5 1 2 3 4
5 1 2 3
4 5 1 2
3 4 5
|
Sumber : Data Primer PraktikumBiologi, 2012.
Ilustrasi 20.PertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung.
Keterangan : 1. Daun 3. Biji 5. Akar
2. Pot 4. Batang
TabelPertumbuhandanPerkembanganpadaTanamanJagung(Zea mays)
|
Umur
|
TT (cm)
|
PT (cm)
|
JD (helai)
|
PA (cm)
|
DB (Cm)
|
|
5 minggu
|
4
|
57
|
4
|
27
|
0,2
|
|
4 minggu
|
3,5
|
50
|
4
|
20
|
0,2
|
|
3 minggu
|
3
|
35
|
4
|
5
|
0,12
|
|
2 minggu
|
2
|
11
|
1
|
3
|
0,12
|
Sumber
: Data Primer PraktikumBiologi 2012.
Ilustrasi21.PertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung
Keterangan : 1. TT = Tinggi Tanaman
2. TP = Tinggi
Tanaman
3. JD = Jumlah
Daun
4. PA =
Panjang Akar
5. DB =
Diameter Batang
GrafikPertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi, 2012.
Ilustrasi 22. Grafik Pertumbuhan dan
Perkembangan Tanaman Jagung
Berdasarkanhasilpraktikumbiologipertumbuhandanperkembangandapatdiketahuibahwatanamanjagung
yang ditanampadaminggupertamahinggaminggukeempatmengalami peningkatan ukuran.Padaumur 1
minggupanjangtanaman 11 cm, padamingguke 2 panjangnyamencapai35 cm,
padamingguketigabertambahmenjadi50 cm danterusbertambahhinggaminggukeempatmencapai57 cm. Pertambahantinggitanamanjagungpadaminggupertamaadalah2 cm
danpadaminggukeduatingginyabertambahmenjadi3 cm,
mingguketigatingginyasemakinbertambahhinggamencapai3,5 cm
danpadaminggukeempattingginyamencapai4 cm.Dari minggupertamahinggakeempatpertumbuhandanperkembanganpada diameter
jugaterusbertambah. Hal itumenurut Champbell(2002)dikarenakanselterusmembelahdanberdiferensiasidanmerupakanakibatdariaktivitas
meristem lateral.Panjangakartanamanjagungdariminggupertamahinggakeempatjuga terusbertambahpanjang.Hal
inidikarenakanpadaujungakarsel – selnyaselalumembelahdisebabkan adanyaaktifitas
meristem apikal.Hal inisesuai denganpernyataan Salisbury dan Cleon (2002)bahwapertambahanukuranmudahdirancukandenganpembelahansel
di meristem, karenapadaujungakardandaerahujungtajuk (apeks) mempunyai meristem.
Pertumbuhandanperkembanganjugaterjadipadadaunjagung.Padaminggupertamajumlahdaunjagung1 helai,
padaminggukeduajumlahdaunnyatumbuhmenjadi 3 helai.Padamingguketigajumlahdaunyaitu4helaidanminggukeempat
mengalamikenaikanyaitutumbuhmenjadi5helai. Hal inisesuaidenganpendapatChampbell (2002)
bahwapertumbuhandanperkembangantidakselaludiindentikkandenganjumlah yang
terusbertambahkarenapadapertumbuhandanperkembangandipengaruhiolehfaktorhormon
yang mempengaruhipemanjangan, danpembelahan sel. Hal inidipertegasolehpendapat
Salisbury dan Cleon (2002) yang menyatakanbahwafaktor-faktor yang
mempengaruhipertumbuhandanperkembanganadalahfaktor intern danekstern.
2.2. PertumbuhandanPerkembanganTanamanKacang
Tanah (Arachishipogaea)
Berdasarkanpraktikumyang telahdilakukandapatdiketahuipertumbuhandanperkembangantanamankacangtanahsebagaiberikut:
|
4minggu 3minggu 2minggu 1minggu
1 2
3 4 5 1 2
3 4 5 1 2
3 4 5 1 2
3 4 5
|
Sumber : Data Primer PraktikumBiologi, 2012.
Ilustrasi23.PertumbuhandanPerkembanganTanamanKacang Tanah
Keterangan : 1. Daun 3. Biji 5. Akar
2. Pot 4. Batang
TabelPertumbuhandanPerkembanganKacang Tanah(Arachishipogea)
|
Umur
|
TT (cm)
|
PT (cm)
|
JD (helai)
|
PA (cm)
|
DB (Cm)
|
|
1 minggu
|
2
|
8
|
8
|
3
|
0,32
|
|
2 minggu
|
5
|
15
|
12
|
4
|
0,32
|
|
3 minggu
|
5
|
24
|
16
|
8,5
|
0,33
|
|
4 minggu
|
5
|
29
|
20
|
9
|
0,33
|
Sumber
: Data Primer PraktikumBiologi 2012.
Ilustrasi 24.PertumbuhandanPerkembanganTanamanJagung
Keterangan :
1. TT = Tinggi Tanaman
2. TP = Tinggi Tanaman
3. JD = Jumlah Daun
4. PA = Panjang Akar
5. DB = Diameter
Batang
GrafikPertumbuhandanPerkembanganTanamanKacang
Tanah
Sumber : Data Primer Praktikum Biologi 2012.
Ilustrasi 25. GrafikPertumbuhandanPerkembanganKacang Tanah
Berdasarkanhasilpengamatanpraktikumpertumbuhandanperkembanganpadatanamankacangtanah,
didapatkanpadasetiapminggunyamengalamipertumbuhandanperkembangan.Halinidapatdilihatmelaluipengamatanjumlahdaun,
panjangakar, panjangtanaman, tinggitanamandan diameter batang yang
mengalamipertumbuhan. Hal inisesuaidenganpendapatGuritno (2005) bahwapertumbuhanadalah
proses kehidupantanaman yang mempunyaikemampuanuntukmelakukanperubahanukuran,
bentuk, danjumlahpadakondisitertentudandipengaruhifaktor luar. Sesuai data
yang ada di tabel, pertumbuhantanamankacangtanahsedangmengalamipertumbuhanpadaperiodelambanpadaumur
2-4 minggu.Periodelambanmempunyaiciriadanyasedikitpertumbuhan, organisminisedanmempersiapkandiriuntuktumbuh.Hal
tersebutsesuaidenganpendapat Kimball (1998) bahwaperiodelambanmempunyaicirisedikitpertumbuhanatautidakadapertumbuhan
yang sebenarnya.
Perubahanukuranpadatanamantersebutdisebabkanolehfaktorluaryakninutrisi, airdancahaya.
Air berpengaruhpadapertumbuhan, jikatidakada air
tumbuhantersebutakanmatiatautidaktumbuh. Sedangkantanaman yang kekurangan air
akanmengakibatkanakartumbuhpendekdanbanyak. Hal inisesuaidenganpendapatGuritno
(2005) yang menyatakanbahwatanaman yang tumbuhkekurangan air
membentukakarlebihbanyakdenganhasil yang lebihrendahdaritanaman yang
tumbuhdalamkeadaancukup air.Cahayaberpengaruhpadapertumbuhan,sesuaipernyataanGuritno
(2005)bahwayang tumbuhditempatgelapakanlebihtinggidaripadatanaman yang
terkenacahaya.
BAB
III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.
Kesimpulan
Dari hasil praktikum pertumbuhan dan perkembangan dapat disimpulkan bahwa organisme mengalami pertumbuhan yang dibuktikan dengan
pertambahan panjang dan perkembangan yang dibuktikan dengan perubahan ke arah
pendewasaan atau penuaan. Proses
pertumbuhandanperkembangantanamanjagungdankacangtanahterusmengalamiperubahandibuktikan denganbertambahnyatinggi,
jumlahdaun, diameter akardanbatangpadatanaman.
Pertumbuhandanperkembangantanamantersebutdipengaruhiolehfaktordariluarmaupundaridalam.Faktordaridalamberupahormonsedangfaktordariluaryaitucahayamatahari,
suhuudara, kelembabanudara, tanah, nutrisidan air
3.2. Saran
Dalampelaksanaanpraktikumsebaiknya praktikanmemperhatikansemuabahan
yang akandigunakanuntukpraktikum. Mulaidaripersiapan pemilihanbibitjagungdankacangtanah yang
akanditanamdancarapemeliharaannyasehinggabiji –
bijijagungdankacangtanahdapattumbuhdenganbaik. Dan hendaknya dalampengukuranharusdilakukandengantelitidancermatsehingga
dapat diperoleh data yang lebihakurat.
DAFTAR PUSTAKA
Champbell.N A. 2002.BiologiJilid 2. Erlangga: Jakarta.
Champbell.N A. 2003.BiologiJilid 3. Erlangga: Jakarta.
Guritno. 2005. AnalisisPertumbuhanTanaman.
UniversitasGadjahMada Press, Yogyakarta.
Kimball, J.W. 1998. Biologi Jilid 2. Erlangga,Jakarta
Salisbury, Frank B dan Cleon W Ross. 2002.
FisiologiTumbuhanJilid III. InstitutTeknik Bandung. Bandung.


























Tidak ada komentar:
Posting Komentar